Peran Dosen melalui Catur Dharma sebagai Agent of Islamic Gender Education
Permasalahan berbasis gender di perguruan tinggi kerap terjadi dalam bentuk pelecehan seksual. Dosen sebagai tenaga pendidik dalam hal ini memiliki peran penting untuk menjadi agent of Islamic gender education melaui program Catur Dharma terhadap mahasiswa, baik secara internal kampus di dalam kelas maupun eksternal kampus di dalam masyarakat. Program Catur Dharma dosen di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta meliputi pembelajaran, penelitian, pengabdian, dan Al Islam Kemuhammadiyahan. Artinya, dalam proses kegiatan pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat selalu didasarkan pada nilai-nilai keagamaan yang mendukung penyelesaian permasalahan berbasis gender.
Sebagai dosen, saya melaksanakan pembelajaran secara egaliter, dengan metode student centered learning. Teknis pembelajaran yang saya laksanakan seperti dengan cara membuat forum group discussion, yang terbagi dari beberapa kelompok yang mendukung gender, dan memberikan kesempatan kritis yang sama untuk menganalisis permasalahan yang dipandang oleh mahasiswa terhadap suatu materi pembelajaran yang sedang berlangsung. Tindakan ini merupakan aksi nyata pendidik sebagai agent of Islamic gender education terhadap mahasiswa dalam berkerjasama untuk menganalisis suatu realitas permasalahan dengan teori dan sudut pandang mahasiswa.
Saya melaksanakan penelitian bersama dengan mahasiswa terkait dengan kontribusi mahasiswa dalam penanganan intoleransi hingga perjuangan hak-hakmahasiswa perempuan. Penelitian kami ini telah dipublikasikan dalam bentuk jurnal nasional, sehingga turut memperkaya referensi pemikiran intelektual dalam melawan diskriminasi atau kekerasan yang berhubungan dengan gender. Upaya ini merupakan aksi nyata sebagai agent of Islamic gender education bagi akademisi maupun politisi dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan toleransi terhadap gender.
Pengabdian kepada masyarakt yang dilakukan oleh dosen juga harus melibatkan
mahasiswa perempuan dan laki-laki untuk diajak bersama-sama untuk terlibat
dalam berbakti kepada masyarakat sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing
mahasiswa. Hal ini sesuai dengan Alquran Surat Al-Zariyat Ayat 56 yang
menjelaskan bawha Tuhan tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka mengabdi kepadaNya. Artinya, perempuan maupun laki-laki adalah manusia
yang memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk mengabdikan diri kepada
tuhannya.
Saya melibatkan mahasiswa perempuan dan laki-laki dari lintas
disiplin keilmuan dalam program pengabdian masyarakat yang saya lakukan di
Kecamatan Giwangan Kota Yogyakarta. Kegiatan di masyarakat seperti kebersihan
lingkungan, pengajian, edukasi pijat bayi, edukasi jurnalis, hingga pemeriksaan
kesehatan yang dilakukan secara gotong royong antara perempuan dan laki-laki.
Upaya ini merupakan bentuk agent of
Islamic gender education sebagai aksi nyata mahasiswa dalam
mengimplementasikan ilmunya di tengah realitas kehidupan bermasyarakat.
Dosen


Comments
Post a Comment