Pendidikan Karakter Generasi Emas 2045
Pendidikan delapan jam belajar dengan lima hari sekolah pada tahun ajaran baru ini merupakan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), sebagai amanat nawacita yang bertujuan untuk menyiapkan warga negara dengan generasi emas pada tahun 2045. Namun demikian, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah tersebut masih menjadi polemik, dan Peraturan Presiden sangat menentukan keberlangsungan terhadap pelaksanaan program yang dikenal Full Day School tersebut.
Di luar pro dan kontra terkait hal tersebut, program pembangunan karakter dinilai sangat penting untuk menanamkan nilai religius, nasionalis, gotong-royong, mandiri, dan integritas bagi generasi muda sejak dini hingga menjadi generasi emas. Carlson (2004) menjelaskan bahwa generasi muda membutuhkan bimbingan dan dukungan agar menjadi efektif dengan memberikan tanggung jawab kepada mereka, dan bukan dengan cara mendikte.
Karakteristik nilai yang diharapkan di atas tentu akan menjadi efektif jika dibimbing dan didukung oleh para tenaga pendidik yang mampu membangun pola pikir dan sikap siswa yang belajar dengan berbagai metode, tempat dan sumber pendidikan. Di luar kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, siswa dapat lebih banyak melaksanakan kegiatan kokurikuler dan ekstra kurikuler secara informal di luar kelas, seperti kegiataan keagamaan, olahraga, seni, atau yang lainnya.
Hal di atas menuntut pihak sekolah untuk lebih kreatif dan inovatif dalam bersinergi dengan berbagai pihak lain, seperti tempat ibadah, olahraga, kursus, museum, taman budaya, sanggar seni, atau tempat lainnya sebagai media belajar yang menyenangkan bagi siswa hingga sore hari. Pendidikan ini akan mampu membangun karakter siswa yang berwawasan lebih luas dan aplikatif dengan memperoleh ilmu yang tidak hanya bersumber dari guru sekolah saja, melainkan juga bisa dari seniman, petani, ustaz, pendeta, dan lain sebagainya.
Selama lima hari sekolah, guru berperan sebagai katalisator dalam membangun dan mengembangkan potensi siswa tanpa mematikan karakter yang dimilikinya. Artinya setiap siswa bebas mengaktualisasikan dirinya tanpa harus merasa terkekang, namun guru tetap bertanggung jawab terhadap aktivitas siswa dengan mengawasi dan menyaring pengaruh negatif seperti radikalisme, narkoba dan hal lainnya. Sementara itu, siswa dapat lebih banyak berkumpul dengan keluarga pada Sabtu dan Minggu, sehingga pembangunan karakter juga perlu mendapatkan bimbingan dan dukungan pada lingkungan keluarga sebagai pendidikan yang lebih mendasar.

Comments
Post a Comment